7 Foto yang Dilarang di Shutterstock dan Alasannya

Ilustrasi vector minimalis fotografer memegang kamera DSLR menghadap lensa besar dengan simbol larangan, mewakili foto yang ditolak di microstock.


Gendies.com - Kalau kamu baru terjun ke dunia microstock, pasti pernah ngalamin momen ini: semangat upload foto pertama, udah diedit rapi, dikasih keyword lengkap, terus… ditolak. Rasanya kayak nunggu gebetan bales chat, tapi yang datang malah pesan penolakan. Nah, jangan buru-buru patah semangat. Faktanya, hampir semua kontributor Shutterstock pasti pernah ngalamin hal ini.

Kami juga dulu sering bingung: kenapa sih foto yang menurut kita bagus, malah ditolak mentah-mentah? Ternyata jawabannya sederhana: ada aturan ketat soal apa yang boleh dan tidak boleh dijual di Shutterstock. Jadi bukan cuma soal foto estetik atau nggak, tapi lebih ke sisi hukum, etika, dan kualitas teknis.

Nah, di artikel ini kami bakal share pengalaman panjang kami soal 7 jenis foto yang pasti ditolak di Shutterstock. Dengan tahu ini, kamu nggak perlu buang waktu upload sia-sia. Jadi sebelum nekat submit, mending cek dulu biar hasil jepretanmu aman dan lolos seleksi.

{getToc} $title={Daftar Isi} $count={Boolean} $expanded={Boolean}

1. Foto dengan Hak Cipta atau Brand Terlindungi

Ilustrasi vector minimalis produk dengan logo buram, menggambarkan foto brand yang dilarang di microstock.


Kenapa Ini Jadi Masalah?

Shutterstock itu main di level global. Artinya, semua foto yang diupload bisa dipakai brand besar, media, sampai perusahaan internasional. Kalau ada brand, logo, atau produk berhak cipta nongol jelas di fotomu, bisa jadi masalah hukum. Misalnya logo Nike atau Apple yang kelihatan jelas di sepatu atau laptop.

Perusahaan sekelas Shutterstock nggak mau ambil risiko dituntut gara-gara fotomu. Jadi lebih aman buat mereka nolak daripada nanti pusing di pengadilan.

Pengalaman Nyata

Kami pernah motret coffee shop dengan nuansa cozy banget. Ada meja kayu, kopi latte dengan latte art cantik, dan suasana hangat. Tapi sayangnya, di cangkir ada logo brand kafe. Kami pikir sepele, ternyata langsung ditolak. Dari situ kami belajar kalau logo sekecil apapun bisa jadi masalah besar.

Tips Menghindarinya

  • Pilih angle yang nggak menampilkan logo.
  • Kalau motret produk, pakai barang generik tanpa merek.
  • Edit logo dengan Photoshop sampai hilang.


Bisa dibilang, kalau fotomu ada brand, lebih baik upload ke editorial (nanti kita bahas di poin lain).

Nah, kalau brand aja dilindungi, apalagi wajah orang. Itu malah lebih ketat lagi aturannya. Yuk, lanjut.

2. Foto Orang Tanpa Izin (Model Release)

Minimalist flat illustration of a person silhouette with a lock icon, modern clean vector, white background, soft navy and yellow decorative elements.


Soal Privasi Itu Penting

Bayangin kamu lagi nongkrong di taman, tiba-tiba fotomu masuk iklan obat jerawat. Kamu nggak pernah tanda tangan kontrak, tapi wajahmu jadi bahan komersil. Gimana rasanya? Nah, itulah alasan kenapa Shutterstock wajib minta model release untuk setiap foto orang yang wajahnya bisa dikenali.

Baca Juga: 7 Foto Makanan Indonesia Paling Laku di Shutterstock

Kasus yang Sering Terjadi

Banyak kontributor pemula upload foto street photography: orang jalan di trotoar, pedagang kaki lima, atau suasana pasar. Menurut mereka keren dan penuh cerita. Tapi begitu ada wajah yang jelas, langsung ditolak.

Kami sendiri pernah ngalamin waktu upload foto suasana karnaval. Padahal niatnya motret warna-warni parade, tapi karena ada wajah anak kecil yang jelas kelihatan, ditolak.

Solusi Praktis

  • Kalau mau komersial, bawa form model release (bisa download di Shutterstock).
  • Kalau nggak bisa minta izin, upload sebagai editorial.
  • Alternatif lain: motret orang dari belakang, siluet, atau pakai depth of field biar wajah blur.


Setelah ngerti soal wajah dan privasi, kita masuk ke hal yang sering bikin bingung: perbedaan komersial dan editorial.

3. Foto Editorial yang Salah Kategori

Flat illustration of a camera shooting a crowd at an event with floating text bubble “Editorial Only”, white deep background with simple geometric soft accents.


Apa Itu Editorial?

Editorial itu foto untuk tujuan berita atau dokumentasi kejadian nyata, bukan iklan. Jadi foto demo, konser, event olahraga, atau suasana kota dengan brand-brand besar masuknya editorial. Bedanya dengan komersial, editorial nggak boleh dipakai untuk promosi produk.

Kesalahan Umum Pemula

Banyak orang upload foto editorial ke kategori komersial. Contohnya, motret stadion sepak bola dengan logo sponsor, lalu diupload ke komersial. Itu jelas ditolak.

Kami dulu pernah upload foto suasana pasar tradisional dengan brand-brand makanan instan terpampang jelas. Kami kira itu bisa untuk komersial, ternyata salah. Begitu dipindah ke editorial, langsung diterima.

Baca Juga: 7 Langkah Menghasilkan $100 Pertama dari Shutterstock

Tips Menghindari Kesalahan

  • Kalau ada brand atau wajah jelas tanpa model release → pilih editorial.
  • Cantumkan detail di deskripsi: tanggal, tempat, acara.
  • Jangan pernah edit logo atau wajah di foto editorial. Biarkan natural.


Nah, kalau editorial ada aturannya, beda lagi dengan foto yang secara etika nggak pantas diupload.

4. Foto dengan Konten Sensitif atau Melanggar Etika

Ilustrasi vector foto dengan tanda peringatan, menggambarkan konten sensitif yang dilarang di microstock.


Batasan yang Harus Kamu Pahami

Shutterstock ingin jadi platform aman buat semua kalangan. Makanya, mereka melarang foto dengan unsur:

  • Kekerasan ekstrem
  • Pornografi atau seksual eksplisit
  • Ujaran kebencian atau diskriminasi


Pengalaman Nyata

Kami pernah motret mural jalanan dengan kata-kata kasar. Dari sisi artistik keren, tapi tetap ditolak. Alasannya: mengandung konten ofensif.

Bahkan foto mainan berbentuk senjata pun sering ditolak kalau kelihatan terlalu realistis. Jadi jangan heran kalau standar mereka agak ketat.

Tips Supaya Aman

Kalau ragu apakah foto bisa menyinggung pihak tertentu, mending jangan upload. Ingat, microstock itu main di pasar global. Sesuatu yang dianggap biasa di satu negara, bisa jadi sangat sensitif di negara lain.

Kalau masalah etika sudah jelas, ada juga kasus lain: foto yang terlalu diedit sampai nggak realistis.

5. Foto dengan Manipulasi Berlebihan

Ilustrasi vector foto alam dengan separuh editan berlebihan, menggambarkan manipulasi berlebihan di fotografi microstock.


Editing Itu Seni, Tapi Ada Batasnya

Semua orang suka ngedit foto biar lebih kece. Tapi di Shutterstock, kalau editanmu terlalu berlebihan sampai bikin foto kelihatan aneh, biasanya ditolak.

Contoh klasik: langit sore yang diubah jadi ungu neon. Cantik sih, tapi nggak realistis. Shutterstock maunya foto yang bisa dipakai banyak orang, bukan sekadar karya eksperimen.

Tips Editing

  • Fokus pada perbaikan dasar: exposure, kontras, white balance.
  • Jangan oversharpen sampai bikin foto pecah.
  • Hindari filter Instagram yang berlebihan.


Kami pernah upload foto landscape dengan HDR overdone. Hasilnya ditolak. Tapi setelah diedit ulang lebih natural, diterima. Jadi kuncinya: jaga keseimbangan.

Setelah urusan editan, kita bahas masalah teknis yang sering disepelekan: kualitas foto.

6. Foto Buram atau Kualitas Rendah

Ilustrasi vector foto buram diperiksa dengan lensa, menggambarkan kualitas rendah yang ditolak di microstock.


Standar Teknis Shutterstock

Shutterstock punya standar tinggi soal kualitas. Foto yang blur, pecah, atau noise parah langsung ditolak. Karena pembeli di sana butuh foto yang siap dipakai untuk cetak besar atau iklan.

Cerita dari Awal Karir

Waktu awal-awal, kami pakai kamera lama dengan ISO tinggi. Foto di layar kamera kelihatan oke. Tapi begitu diperbesar, noise muncul di mana-mana. Semua foto ditolak. Dari situ kami sadar: kamera boleh sederhana, tapi teknik harus benar.

Tips Praktis

  • Gunakan tripod kalau cahaya minim.
  • Jangan upload foto hasil crop berlebihan.
  • Cek foto di 100% zoom sebelum upload.


Kalau kualitas jadi masalah, ada satu hal lain yang lebih serius: foto berisi data pribadi atau dokumen resmi.

7. Foto Dokumen, Data Pribadi, atau Informasi Rahasia

Ilustrasi vector kartu identitas dengan data buram, mewakili larangan upload dokumen pribadi di microstock.

Baca Juga: Baca Juga: 7 Foto Olahraga Paling Laku di Shutterstock

Kenapa Dilarang?

Shutterstock melarang foto dokumen resmi karena rawan disalahgunakan. Misalnya KTP, paspor, kartu kredit, atau tiket pesawat. Semua itu bisa jadi pintu untuk pencurian data.

Pengalaman Nyata

Kami pernah lihat kontributor baru upload foto tiket konser dengan barcode jelas. Ditolak. Alasannya: ada data unik yang bisa dipakai orang lain.

Tips Praktis

Kalau memang butuh ilustrasi dokumen, bikin mockup palsu. Misalnya bikin kartu identitas fiktif dengan nama dan nomor random. Itu aman dan malah sering dicari.

Tambahan lainnya

Shutterstock punya aturan ketat soal jenis foto yang tidak boleh diunggah karena bisa melanggar hak cipta, etika, maupun standar kualitas. Misalnya, foto yang mengandung konten dewasa, kekerasan berlebihan, ujaran kebencian, konten ilegal, privasi pribadi tanpa izin, hasil jiplakan atau plagiasi, hingga foto dengan logo/brand yang jelas terlihat. Semua itu bisa langsung ditolak karena berisiko secara hukum dan melanggar pedoman komunitas.

Selain itu, penting untuk dicatat bahwa foto hasil AI juga tidak boleh di-submit ke Shutterstock, karena platform ini hanya menerima karya asli yang benar-benar dihasilkan melalui kamera atau perangkat fotografi, bukan generasi buatan mesin. Aturannya memang ketat, tapi tujuannya jelas: melindungi pembeli, kreator, dan menjaga kualitas konten tetap tinggi.

Kesimpulan

Dari pengalaman panjang kami, ada 7 jenis foto yang dilarang di Shutterstock: foto dengan brand/logo terlindungi, foto orang tanpa model release, foto editorial salah kategori, foto dengan konten sensitif, foto manipulasi berlebihan, foto kualitas rendah, dan foto dokumen/data pribadi. Semua poin ini sebenarnya bukan untuk mempersulitmu sebagai kontributor, tapi untuk melindungi kamu, pembeli, sekaligus platform itu sendiri.

Kalau kamu sudah ngerti aturan ini, peluang fotomu diterima jadi jauh lebih besar. Ingat, Shutterstock bukan cuma soal foto bagus, tapi juga soal patuh aturan. Fotomu boleh saja artistik, tapi kalau menabrak aturan, tetap ditolak. Justru karya sederhana tapi sesuai regulasi sering lebih dihargai karena aman dipakai di banyak konteks.

Kami dulu sering ditolak, tapi makin lama makin paham polanya. Penolakan itu bukan akhir dari perjalanan, tapi bagian dari proses belajar. Jangan anggap penolakan sebagai kegagalan, tapi lihatlah sebagai guru yang diam-diam ngajarin kamu supaya lebih peka. Setiap penolakan adalah petunjuk kecil agar kamu lebih hati-hati di upload berikutnya.

Kalau kamu konsisten, suatu saat fotomu bukan cuma diterima, tapi juga laku keras. Rasanya benar-benar beda ketika hasil jepretanmu mulai menghasilkan dolar pertama. Dari situlah motivasi makin tumbuh: bahwa karya kecilmu ternyata punya nilai besar di mata orang lain. Jadi jangan berhenti di tengah jalan. Teruslah berkarya, pahami aturan, dan biarkan fotomu bercerita untuk dunia.

Previous Post Next Post